Showing posts with label Artikel Biologi. Show all posts
Showing posts with label Artikel Biologi. Show all posts

Sunday

Lidah buaya memang mudah didapatkan ya. Banyak sekali lidah buaya di indonesia, manfaat dari lidah buaya ini sangat lah banyak. Nah, untuk itu saya akan berbagi informasi tentang manfaat dari lidah buaya. 

Sebenarnya ini bukan artikel buatan Saya, saya me-repostnya dari Blog Fikrismea . Dan bagi anda yang sedang mencari-cari manfaat lidah buaya maka disini lah tempat yang tepat. Silahkan disimak ya semoga artikel ini bermanfaat.

Manfaat Baik dari lidah buaya

Dibawah ini adalah Manfaat dan cara memakai lidah buaya untuk kesehatan : 


1. Dapat Menghilangkan Jerawat
Cara dengan lidah buaya ini sangat mudah sobh, Siapkan lidah buaya satu saja atau lebih juga gak apa-apa, Kalau sudah kemudian belah lidah buaya tadi dan ambil getha dari lidah buayanya atau lendir nya. Nah lalu oleskan saja getah/lendir nya tadi kebagian jerawat tadi, kemudian diamkan saja kira-kira 15-20menit saja. Setelah itu bilas dengan Air hangat.


2.  Dapat Menghilangkan Flek Berwarna Hitam
Untuk Anda yang mempunayi kendala dengan flek-flek hitam dibagian wajah because pengaruh kosmetik-kosmetik ataupun juga bekas jerawat metode jera untuk menghilangkannya dengan cara yang alami. Caranya setelah muka anda telah dibersihkan, Ambil lagi jelly lidah buaya, lalu bersihkan saja dari lendir-lendirnya dan usapkan ke wajah , pada malam dan siang hari. 


3.  Menyehatkan Bulu Mata
Ini untuk anda yang seing menggunakan maskara, Tentu nya sangat akan memberikan efek pada bulu mata anda. Bulu mata anda akan terasa kering dan juga cepat rontok. Tetapi itu tidak akan menjadi masalah karena dengan lidah buaya. Cara nya: Apabila anda ingin tidur, cuci dulu bulu mata anda ini agar terbebas dari yang nama nya kimia seperti maskara tadi. Lalu ambil jely lidah buaya oleskan lembut lembut kebulu mata dengan perlahan. Biarkan saja selama 25menit, apabila sudah waktu segitu , cucilah segera dengan air biasa. Gunakan lah dengan teratur, 1 kali sehari juga gak apa apa 


4.   Dapat Membuat Alis Mata Subur
Jelly dari lidah buaya ini juga bisa membuat alis anda menjadi tebal sobh. Cara nya cukup mudah ( lagi-lagi kita harus mengoleskan nya ) Kalu sudah dioleskan kebagian alis tadi, esok harinya cuci saja bersih bersih. Rajin rajin lah melakukan cara ini. Agar alis yang anda ingin kan akan terlihat lebih tebal dan akan kelihatan lebih cantik. 


Re-Post oleh Blog EskrimSandwich
Sumber : Blog Fikrismea
Posted by Unknown

Monday

SUMBER LIMBAH BAHAN BERBAHAYA & BERACUN ( B3 )

Berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh Bina Lingkungan Hidup DKI, ada sembilan kelompok besar penghasil limbah B3, delapan kelompok industri skala menengah dan besar, serta satu kelompok rumah sakit yang juga  memiliki potensi menghasilkan limbah B3.

1.      Industri Tekstil dan Kulit
Sumber utama limbah B3 pada industri tekstil adalah penggunaan zat warna.
Beberapa zat warna dikenal mengandung Cr, seperti senyawa Na2Cr3O7 atau senyawa Na2Cr3O7. Industri batik menggunakan senyawa Naftol yang sangat berbahaya. Senyawa lain dalam kategori B3 adalah H2O2 yang sangat reaktif dan HClO yang bersifat toksik.
Beberapa tahap proses pada indusrti kulit yang mneghasilkan limbah B3 antara lain washing, soaking, dehairing, lisneasplatting, bathing, pickling dan degreasing. Tahap selanjutnya meliputi tanning, shaving, dan polishing. Proses tersebut menggunakan pewarna yang mengandung Cr dan H2SO4. Hal  inilah yang menjadi pertimbangan untuk memasukkan industrikulit dalam kategori penghasil limbah B3.

2.      Pabrik Kertas dan Percetakan
Sumber limbah padat berbahaya di pabrik kertas berasal dari proses pengambilan kmebali (recovery) bahan kimia yang memerlukan stabilisasi sebelum ditimbun. Sumber limbah lainnya ada pada permesinan kertas, pada pembuangan (blow down) boiler dan proses pematangan kertas yang
menghasilkan residu beracun. Setelah residu tersebut diolah, dihasilkan konsentrat lumpur beracun.
Produk samping proses percetakan yang dianggap berbahaya dan beracun adalah dari limbah cair pencucian rol film, pembersihan mesin dan pemrosesan film. Proses ini menghasilkan konsentrat lumpur sebesar 1-4 persen dari volume limbah cair yang diolah. Industri persuratkabaran yang
memiliki tiras jutaan eksemplar ternyata memiliki potensi sebagai penghasil limbah B3.

3.      Industri Kimia Besar
Kelompok industri ini masuk dalam kategori penghasil limbah B3, yang antara lain meliputi pabrik pembuatan resin, pabrik pembuat bahan pengawet kayu, pabrik cat, pabrik tinta, industri gas, pupuk, pestisida, pigmen dan sabun. Limbah cair pabrik resin yang sudah diolah menghasilkan lumpur beracun sebesar 3-5 persen dari volume limbah cair yang diolah. Pembuatan cat menghasilkan beberapa lumpur cat beracun, baik air baku (water-base) maupun zat pelarut (solvent-base). Sedangkan industri tinta menghasilkan limbah terbesar dari dari pembersihan bejana-bejana produksi, baik cairan maupun lumpur pekat. Sementara, timbulnya limbah beracun dari industri pestisida bergantung pada jenis proses pada pabrik tersebut, yaitu apakah ia benar-benar membuat bahan atau hanya memformulasikan saja.

4.      Industri Farmasi
Kelompok indusrti farmasi terbagi dalam dua sub-kelompok, yaitu sub-kelompok pembuat bahan dasar obat dan sub-kelompok formulasi dan pengepakan obat. Umumnya di Indonesia adalah sub-kelompok kedua yang tidak begitu membahayakan. Tapi, limbah industri farmasi yang memproduksi
atibiotik memiliki tingkat bahaya cukup tinggi. Limbah industri farmasi umumnya berasal dari proses pencucian peralatan dan produk yang tidak terjual dan kadaluarsa.

5.      Industri Logam Dasar
Industri logam dasar nonbesi menghasilkan limbah padat dari pengecoran, percetakan, dan pelapisan, yang mengahasilkan limbah cair pekat beracun sebesar 3 persen dari volume limbah cair yang diolah. Industri logam untuk keperluan rumah tangga menghasilkan sedikit cairan pickling yang tidak dapat diolah di lokasi pabrik dan memerlukan pengolahan khusus. Selain itu juga terdapat cairan pembersih bahan dan peralatan, yang konsentratnya masuk kategori limbah B3.
  
6.      Industri Perakitan Kendaraan Bermotor
Kelompok ini meliputi perakitan kendaraan bermotor seperti mesin, diesel dan pembuatan badan kendaraan (karoseri). Limbahnya lebih banyak bersifat padatan, tetapi dikategorikan sebagai non B3. Yang termasuk B3 berasal dari proses penyiapan logam (bondering) dan pengecatan yang mengandung logam berat seperti Zn dan Cr.

7.      Industri Baterai Kering dan Aki
Limbah padat baterai kering yang dianggap bahaya berasal dari proses
filtrasi. Sedangkan limbah cairnya berasal dari proses penyegelan. Industri
aki menghasilkan limbah cair yang beracun, karena menggunakan H2SO4 sebagai
cairan elektrolit.

8.      Rumah Sakit
Rumah sakit menghasilkan dua jenis limbah padat maupun cair, bahkan juga limbah gas, bakteri, maupun virus. Limbah padatnya berupa sisa obat-obatan, bekas pembalut, bungkus obat, serta bungkus zat kimia. Sedangkan limbah cairnya berasal dari hasil cucian, sisa-sisa obat atau bahan kimia laboratorium dan lain-lain. Limbah padat atau cair rumah sakit mempunyai karateristik bisa mengakibatkan infeksi atau penularan penyakit. Sebagian juga beracun dan bersifat radioaktif.



SECARA SINGKAT SUMBER- SUMBER LIMBAH B3

  1. Industri Farmasi  : Umumnya berasal dari proses pencucian peralatan dan produk yang tidak terjual dan kadaluarsa dan juga dari sisa-sisa obat-obatan.
  2. Industri Logam   : Umumnya menghasilkan limbah padat dari pengecoran, percetakan dan bahan pelapisan logam.
  3. Industri Kendaraan Bermotor  : Umumnya berasal dari proses penyiapan logam (bandering) dan pengecatan yang mengandung logam berat.
  4. Industri Kimia      : Umumnya berupa limbah cair dan lumpur yang berkonsentrasi pekat.
  5. Industri Tekstil    : Umumnya dari penggunaan zat pewarna yang mengandung Cr.
  6. Industri Kertas   : Umumnya bersal dari proses pengambilan kembali (recovery) bahan kimia yang memerlukan stabilisasi sebelum ditimbun
  7. Rumah Sakit   : Limbah padat atau cair rumah sakit mempunyai karakteristik yang bisa mengakibatkan infeksi atau penularan racun. sebagian juga beracun dan bersifat korosif. Umumnya berasal dari pencucian alat-alat medis dan sisa obat-obatan atau jarum suntik.
  8. Rumah Tangga    : Umumnya berasal dari sisa-sisa makanan yang mengandung unsur B3.


UNIT PENGOLAHAN LIMBAH B3











    LANGKAH- LANGKAH  PENGOLAHAN LIMBAH B3



                     a.     Sumur dalam/ Sumur Injeksi (deep well injection)

Salah satu cara membuang limbah B3 agar tidak membahayakan manusia adalah dengan cara memompakan limbah tersebut melalui pipa kelapisan batuan yang dalam, di bawah lapisan-lapisan air tanah dangkal maupun air tanah dalam. Secara teori, limbah B3 ini akan terperangkap dilapisan itu sehingga tidak akan mencemari tanah maupun air. Namun, sebenarnya tetap ada kemungkinan terjadinya kebocoran atau korosi pipa atau pecahnya lapisan batuan akibat gempa sehingga limbah merembes kelapisan tanah.

b.      Kolam penyimpanan (surface impoundments)
limbah B3 cair dapat ditampung pada kolam-kolam yang memang dibuat untuk limbah B3. Kolam-kolam ini dilapisi lapisan pelindung yang dapat mencegah perembesan limbah. Ketika air limbah menguap, senyawa B3 akan terkosentrasi dan mengendap di dasar. Kelemahan metode ini adalah memakan lahan karena limbah akan semakin tertimbun dalam kolam, ada kemungkinan kebocoran lapisan pelindung, dan ikut menguapnya senyawa B3 bersama  air limbah sehingga mencemari udara.

      c.       Landfill untuk limbah B3 (secure landfils)
       limbah B3 dapat ditimbun pada landfill, namun harus pengamanan tinggi. Pada metode pembuangan secure landfills, limbah B3 ditempatkan dalam drum atau tong-tong, kemudian dikubur dalam landfill yang didesain khusus untuk mencegah pencemaran limbah B3. Landffill ini harus dilengkapi peralatan moditoring yang lengkap untuk mengontrol kondisi limbah B3 dan harus selalu dipantau. Metode ini jika diterapkan dengan benar dapat menjadi cara penanganan limbah B3 yang efektif. Namun, metode secure landfill merupakan metode yang memliki biaya operasi tinggi, masih ada kemungkinan terjadi kebocoran, dan tidak memberikan solusi jangka panjang karena limbah akan semakin menumpuk.   
     

Teknologi Pengolahan

Terdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri, tiga metode yang paling populer di antaranya ialah chemical conditioning, solidification/Stabilization, dan incineration.

  1. Chemical Conditioning
Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah chemical conditioning. TUjuan utama dari chemical conditioning ialah:
    • menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam lumpur
    • mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam lumpur
    • mendestruksi organisme patogen
    • memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioning yang masih memiliki nilai ekonomi seperti gas methane yang dihasilkan pada proses digestion
    • mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam keadaan aman dan dapat diterima lingkungan
Chemical conditioning terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:

a.       Concentration thickening
Tahapan ini bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang akan diolah dengan cara meningkatkan kandungan padatan. Alat yang umumnya digunakan pada tahapan ini ialah gravity thickener dan solid bowl centrifuge. Tahapan ini pada dasarnya merupakan tahapan awal sebelum limbah dikurangi kadar airnya pada tahapan de-watering selanjutnya. Walaupun tidak sepopuler gravity thickener dan centrifuge, beberapa unit pengolahan limbah menggunakan proses flotation pada tahapan awal ini.

b.      Treatment, stabilization, and conditioning
Tahapan kedua ini bertujuan untuk menstabilkan senyawa organik dan menghancurkan patogen. Proses stabilisasi dapat dilakukan melalui proses pengkondisian secara kimia, fisika, dan biologi. Pengkondisian secara kimia berlangsung dengan adanya proses pembentukan ikatan bahan-bahan kimia dengan partikel koloid. Pengkondisian secara fisika berlangsung dengan jalan memisahkan bahan-bahan kimia dan koloid dengan cara pencucian dan destruksi. Pengkondisian secara biologi berlangsung dengan adanya proses destruksi dengan bantuan enzim dan reaksi oksidasi. Proses-proses yang terlibat pada tahapan ini ialah lagooning, anaerobic digestion, aerobic digestion, heat treatment, polyelectrolite flocculation, chemical conditioning, dan elutriation.

c.       De-watering and drying
De-watering and drying bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan air dan sekaligus mengurangi volume lumpur. Proses yang terlibat pada tahapan ini umumnya ialah pengeringan dan filtrasi. Alat yang biasa digunakan adalah drying bed, filter press, centrifuge, vacuum filter, dan belt press.

d.      Disposal
Disposal ialah proses pembuangan akhir limbah B3. Beberapa proses yang terjadi sebelum limbah B3 dibuang ialah pyrolysis, wet air oxidation, dan composting. Tempat pembuangan akhir limbah B3 umumnya ialah sanitary landfill, crop land, atau injection well.

Posted by Unknown

Sunday

BAB II
PENGENALAN PROSES PENGOLAH AIR




            Dari bab sebelumnya, diketahui bahwa air dan air air limbah seringkali memiliki komposisi yang sangat komplek dan karena itu modifikasi dari komposisi tersebut biasanya dilakukan untuk menyesuaikan penggunanya. Kontaminan mungkin hadir dalam bentuk sebagai berikut:

a.      Material-material Kasar Tersuspensi atau Terapung
Dalam air, daun, cabang, ranting kayu dan dalam air limbah kertas, kain, pasir dan sebagainya.
b.      Material-material Halus Tersuspensi dan Kolodial
Dalam air partikel lumpur dan lempung, mikroorganisme dan dalam air limbah molekul organik kasar, partikel tanah dan mikroorganisme.
c.       Material-material Terlarut
Dalam air Alkalinitas, kesadahan, asam organik dan dalam air limbah senyawa organik, garam organik.
d.      Gas Terlarut
Dalam air-Karbondioksida, Hidrogen Sulfida dan dalam air limbah Hidrogen Sulfida.
e.       Cairan Tak Terlarut
Misalnya lemak, minyak dan pelumas.


Metode Pengolahan

1.      Proses Pengolahan Fisis yang bergantung terutama pada sifat-sifat fisis dari impuritis air. Misalnya ukuran partikel, berat jenis, viskositas dsb. Contoh proses jenis ini adalah Penyaringan (screening), Pengendapan (sedimentasi), Filtrasi dan Transfer Gas.
2.      Proses Kimiawi yang bergantung pada sifat kimia dari reagen yang ditambahkan kedalam air. Contoh proses kimianya adalah Koagulasi, Presipitasi dan Penukaran Ion.
3.      Proses Biologi yang memanfaatkan reaksi biokimia untuk memisahkan impuritis terlarut atau kolodial biasanya zat organik. Proses jenis ini adalah Filtrasi Biologi dan Lumpur Aktif.


Proses Pengolahan

            Untuk melindungi utama suatu instalasi pengolahan air dan membantu operasinya supaya lebih efisien maka perlu untuk memisahkan material-material terapung dan tersuspensi yang berukuran besar yang banyak ditemukan dalam air baku. Material ini mencakup dedaunan, ranting, cabang pohon, kertas, kain dan reruntuhan lain yang dapat menghambat aliran menuju ke instalasi atau dapat merusak peralatan didalam instalasi.

1.      Screening dan Straining

Tahap pertama pengolahan biasanya berupa operasi Screening (saringan kisi) atau Straining yang sederhana untuk memisahkan material (solid) berukuran besar. Dalam kasus pengolahan air bersih beberapa bentuk perintang atau saringan kasar dengan jarak kisi kira-kira 75mm digunakan untuk mencegah material-material besar masuk kedalam bangunan sedap (intake). Saringan yang utama biasanya dilengkapi dengan semacam jala (jaring) yang mempunyai ukuran lubang 5-20mm dan dipasang dalam bentuk belit kontinyu, cakram atau suatu drum yang nantinya air akan mengalir melaluinya.
Alternatif lain adalah dengan cara menghancurkannya menjadi potongan-potongan itu kemudian dapat dikembalikan kealiran semula untuk dipisahkan bersama-sama dengan material yang bisa diendapkan selama proses pengolahan utama. Dengan demikian dapat meniadakan keharusan untuk mengelola material tersaring sebagaimana pada screen, namun memerlukan tekanan air yang lebih besar daripada kehilangan tekanan melalui saringan.

2.      Microstraining

Microstrainer adalah suatu bentuk pengembangan dari saringan drum yang menggunakan jasa stainless-steel yang ditenun halus dengan ukuran lubang 20-60 micrometer untuk memungkinkan pemisahan partikel-partikel yang relatif kecil.
Dalam aplikasi pengolahan air, microstraining digunakan untuk memisahkan alga dan partikel-partikel lain dari air jika kualitasnya sudah baik. Microstraining juga diterapkan sebagai tahap pengolahan tersier yang terakhir, guna mendapatkan kualitas efluen air limbah yang sangat tinggi.
Desain dari instalasi microstrainer didasarkan pada penetapan laboratorium suatu karakteristik empiris suspensi yang disebut sebagai indeks filtrabilitas. Parameter ini menunjukkan kelakuan suspensi sehubungan dengan sifat-sifat pemampatannya dan dapat digunakan untuk menentukan kecepatan penyaringan yang diperbolehkan guna mencegah clogging yang berlebihan dan kemungkinan kerusakan fisis dari jaringan microstrainer.

3.      Pemisahan Pasir

Kebanyakan sistem pembuangan air limbah rumah tangga dan khususnya dalam sistem tercampur pasir dengan jumlah yang cukup banyak akan terbawa dalam aliran dan material ini jika tidak dipisahkan dapat menyebabkan kerusakan peralatan-peralatan mekanik suatu instalasi pengolahan air limbah.
      Karena ukuran partikel pasir relatif besar, densitasnya tinggi jika dibandingkan dengan partikel organik dari limbah. Partikel pasir dengan ukuran diameter 0,2mm dan berat jenis 2,65 memiliki kecepatan pengendapan sekitar 1,2m/s dengan menggunakan saluran yang penampangnya berbentuk parabola maka sangat memungkinkan untuk mendapat kecepatan horizontal yang konstan.

4.      Distribusi Aliran

Distribusi Aliran sangat diperlukan guna membagi debit aliran menjadi beberapa unit (satuan) yang sama atau mengalihkan kelebihan debit dari design maksimummnya ke suatu unit tambahan lainnya, misalkan bak pengendapan atau penampung air hujan.

Pembagian debit tidaklah mudah, karena sistem hidrolika suatu intalasi pengolahn air seringkali sangat kompleks. Barangkali bentuk pembagian debit aliran yang paling sesuai dapat dicapai dengan menggunakan ambang air jatuh bebas walaupun dalam hal ini tekanan yang diperlukan untuk struktur bangunan semacam ini mungkin tidak tersedia.
Posted by Unknown

Friday

JURUSAN TEKNIK KIMIA
TAHUN AJARAN 2012-2013


PEMBUATAN VIRGIN COCONUT OIL
                 


  1. Pendahuluan
Kelapa merupakan salah satu dari sekian banyak biji tanaman yang dapat digunakan dalam pembuatan minyak. Minyak yang terbuat dari kelapa banyak digunakan masyarakat sebagai minyak goreng. Pembuatan minyak kelapa secara tradisional dilakukan dengan pemanasan pada suhu tinggi. Pembuatan minyak kelapa secara tradisional ini banyak menimbulkan kerugian. Sebagai contoh, pemanasan yang tinggi dapat mengubah struktur  minyak serta menghasilkan warna minyak kurang baik. Dewasa ini telah ditemukan suatu metode pembuatan minyak kelapa yang dapat mengurangi kerugian-kerugian tersebut diatas. Metode ini didasarkan pada penemuan biotekhnologi sederhana, yaitu penggunaan Saccharomyces sp untuk memisahkan minyak dari karbohidrat dan protein yang terdapat dalam sel-sel endosperm biji kelapa. Metode ini lebih dikenal dengan pembuatan minyak kelapa dengan menggunakan ragi atau pembuatan minyak kelapa secara fermentasi (virgin oil).
Pada pembuatan minyak secara fermentasi ini sebenarnya yang diperlukan adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh jamur saccharomyces sp. Enzim yang diproduksi oleh Saccharomyces sp ini dilepaskan ke lingkungan sekiatr jamur untuk menghancurkan subtract tempat tumbuhnya menjadi senyawa-senyawa organic dapat larut. Subtrat yang dihancurkan ini pada umumnya berupa senyawa karbohidrat didalam endosperm biji kelapa. Minyak umumnya dapat berikatan dengan karbohidrat dan protein. Dengan dihancurkannya karbohidrat oleh enzim yang dihasilkan Saccharomyces sp, maka minyak maupun protein masing-masing akan terlepas. Minyak akan berada di permukaan karena memiliki BJ yang lebih ringan, sedangkan proteinnya akan mengendap. Protein yang mengendap inilah yang selanjutnya oleh orang sunda disebut sebagai galendo.
Pembuatan minyak kelapa secara fermentasi memiliki banyak keuntungan dibandingkan dengan cara tradisional. Pada cara tradisional rendeman minyak yang diproleh sekitar 15 -17%, sedangkan dengan cara fermentasi rendeman yang diproleh sekitar 22-24%. Selain itu, pembuatan minyak kelapa secara fermentasi prosedurnya lebih mudah, dapat menghemat bahan bakar, dan mengahasilkan minyak yang berwarna jernih dengan kualitas memenuhi standar minyak Indonesia. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa keberhasilan pembuatan minyak dengan metode ini sangat dipengaruhi oleh jenis subtract, kenis ragi, dan factor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan Saccharomyces sp 

  1. Alat dan Bahan
Alat
v  Stoples plastic yang dilubangi dan dihubungkan dengan slang plastik sepanjang 30 cm.
v  Waskom
v  Saringan
v  Gelas ukur
v  Beker gelas
v  Timbangan
v  Thermometer
Bahan
v  Kelapa yang sudah diparut sebayak 1 kg
v  Air hangat dengan suhu 50-600C
v  Ragi roti (permifan)

  1. Cara kerja
1.      Pembuatan krim santan
v  Kelapa yang telah diparut disiram dengan air hangat (suhu 50-600C) sebanyak 1 liter, kemudian diperas hingga diproleh santan sebanyak 1,5 liter. Untuk memproleh hasil yang maksimal, ampas yang diperoleh dapat disiram lagi dengan air hangat sebanyak 0,5 liter, kemudian diperas kembali.
v  Santan yang diperoleh dimasukkan kedalam stopels yang telah dihubungkan dengan selang plastic pada bagian dasarnya.
v  Menutup stoples yang telah berisi santan dengan kertas agar tidak banyak
terkontaminasi, kemudian menyimpan selama 6-12 jam agar terjadi pemisahan antara air dan krim santannya.
v  Setelah air dan krim santan tampak terpisah. Membuang airnya melalui selang pada bagian dasar stoples, sehingga tertinggal didalam stoples hanya krim santannya saja.
2.         Permentasi dan inkubasi
v  Menimbang krim santan yang diperoleh, kemudian menambahkan ragi roti sebayak 0.5 % dari berat krim santan tersebut, kemudian mengaduknya hingga merata.
v  Menutup dan menyimpan krim santan yang telah dikasih ragi didalam ruang inkubasi dengan suhu 300C selama 24 jam. Selama inkubasi ini proses fermentasi oleh ragi akan berlangsung.
v  Setelah masa inkubasi mencapai 24 jam, minyak yang terbentuk akan tampak berada dipermukaan. Kemudian memisahkan minyak tersebut dari bahan-bahan lain yang mengendap dibawahnya, kemudian memanaskan selama 10-40 menit.
v  Setelah itu memasukan minyak dalam stoples

  1. DATA PENGAMATAN
Pembuatan VCO dari 1,5 liter santan
Suhu inkubasi
Krim yang dihasilkan
Fermipan yang digunakan
Jumlah VCO yang didapat
Warna VCO
300C
350 ml
1,75 gram
50 ml
Bening dan berbau khas kelapa

Lapisan yang terbentuk setelah inkubasi 24 jam
Lapisan atas
Berupa minyak murni (VCO)
Lapisan tengah
Berupa blondo (warna putih)
Lapisan bawah
Berupa air


  1. PEMBAHASAN
Pada praktikum Biologi Terapan kali ini kami telah membuat VCO (Virgin Coconut Oil) dengan proses pembuatan VCO secara fermentasi. Pada proses fermentasi ini dapat menggunakan mikroba penghasil enzim tertentu untuk memecah protein yang berikatan dengan minyak atau karbohidrat sehingga minyak dapat terpisah secara baik. Proses fermentasi oleh bakteri asam laktat terbukti mampu mengekstraksi minyak dari emulsi krim santan kelapa. Selama proses fermentasi terjadi pemecahan senyawa-senyawa penyusun emulsi krim santan. Senyawa karbohidrat dalam krim santan merupakan sumber karbon bagi bakteri asam laktat yang digunakan sebagai sumber energi dalam metabolisme sel (Nazaruddin dan Yasa, 2001). Pembentukan asam laktat dari karbohidrat menyebabkan penurunan pH substrat, sehingga dapat menyebabkan protein yang juga sebagai emulsifier pada krim santan mengalami denaturasidan penggumpalan. Penguraian protein juga berlangsung secara enzimatis oleh enzim aminpeptidase yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat yang digunakan sebagai bakteri starter.Aminopeptidase merupakan eksopeptidase yang menguraikan peptide menjadi asam amino (Yahya dkk., 1997). Dengan terurainya karbohidrat dan protein dalam emulsi krim santan, maka molekul minyak akan dibebaskan dan membentuk lapisan tersendiri yang dapat dipisahkan dari bagian lainnya.
Adapun pada percobaan kali ini kami menggunakan Mikroba yang biasa digunakan yaitu Sacacharomycea cerevisiae yang terdapat dalam ragi roti (fermipan). Fermipan merupakn ragi roti yang dibuat dengan cara modern dari inokulum khamir yang berasal dari kultur murni. Populasi mikroba fermipan terdiri dari khamir Sacacharomycea cerevisiae serta sedikit dari golongan bakteri asam laktat seperti Lactobacillus aceti. Pada pembuatan VCO secara fermentasi, Sacacharomycea cerevisiae menggunakan karbohidrat yang terkandung dalam krim santan sebagai sumber energi utama sehingga ikatan karbohidrat, lemak dan proteinnya menjadi longgar yang akhirnya akan terlepas. Minyak akan berada dipermukaan karena memiliki berat jenis yang lebih ringan, sedangkan protein (blondo) dan air berada di bawah.
        Pemisahan krim santan yang telah diinkubasi pada proses pembuatan VCO secara fermentasi menggunakan ragi roti (fermipan) yang mengandung Sacacharomycea cerevisiae memperlihatkan hasil yang sesuai harapan, dimana terbukti 3 lapisan yaitu lapisan atas berupa minyak murni (VCO), lapisan tengah berupa blondo (warna putih) dan lapisan bawah berupa air. Berdasarkan data hasil penelitian menunjukkan volume VCO (ml) hasil fermentasi menunjukkan hasil. Pada perlakuan antara suhu inkubasi dan konsentrasi fermipan, diperoleh hasil pada suhu 30OC dan konsentrasi fermipan 1,75gr/350 ml krim yaitu menghasilkan 50 ml. Dari percobaan ini dapat menunjukkan bahwa suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan dan pertumbuhan mikroorganisme. Saccharomyces cereviciae optimal pertumbuhannya pada suhu 25-30OC, sedangkan enzim lipase yang dihasilkannya mmapu bekerja optimal pada substratnya pada kisaran suhu 30-40OC.
Semakin tinggi kadar air dalam VCO menyebabkan terjadinya reaksi hidrolisis yang dapat mengubah minyak menjadi asam lemak bebas dan gliserol yang dilakukan oleh enzim lipase. Enzim ini dihasilkan oleh mikroba yang tumbuh pada bahan pangan dengan kadar air tinggi. Reaksi hidrolisi ini mengakibatkan ketengikan yang menghasilkan cita rasa dan bau tengik pada minyak tersebut.
Hasil penelitian menunnjukkan bahwa kondisi fisik VCO menghasilkan minyak yang berwarna bening (color less/white water) dan berbau harum khas kelapa. Sesuai dengan pendapat Alamsyah (2005) yang mengatakan perbedaan utama VCO dengan minyak kelapa biasa terletak pada warna, rasa (taste) dan bau (scent). Minyak kelapa murni memilik sifat bening seperti air basah, tidak berbau (color less), mempertahankan bau dan rasa khas kelapa segar. Warna minyak yang terbentuk disebabkan karena tidak adanya pemanasan, karena selama proses pemanasan menyebabkan komponen karbohidrat, protein dan minyak akan mengalami hidrolisis dan oksidasi yang akan berpengaruh pada warna minyak.







  1. KESIMPULAN
Ø   VCO merupakan minyak kelapa murni yang terbuat dari kelapa tua segar sebagai bahan baku dan diproses tanpa pemanasan atau dengan pemanasan terbatas,bergizi tinggi dan mengandung 50-53% asam laurat.
Ø   VCO diproses dengan meniru cara alam sehingga tidak merusak kandunganessensial dari lemak kelapa.
Ø  Perlakuan fermentasi pada kombinasi suhu inkubasi 30OC dan konsentrasi  fermipan 1,75 gr/350ml krim santan, mengahasilkan produk VCO optimum dengan volume sebesar 50ml/350ml
Ø  Dalam percobaan ini dapat terlihat bahwa kesterilan pada proses pembuatan dan suhu berpengaruh terhadap keberhasilan pembuatan VCO ini





















LAMPIRAN
Pertanyaan
1.    Mengapa dalam pembuatan santan harus menggunakan air hangat?
Jawab: karena dengan menggunakan air hangat santan akan keluar lebih banyak  dibandingkan menggunakan air dingin.
2.    kenapa selama permentasi toples harus ditutup kertas?
Jawab: kertas agar tidak banyak terkontaminasi
3.    Mengapa minyak yang diproleh harus dipanaskan 10-40 menit?
Jawab: Agar steril dan tidak menggumpal
4.    Sebutkan dan jelaskan enzim apa saja yang dihasilkan Saccharomyces sp untuk merombak minyak dalam skim?
Jawab: Proses fermentasi oleh bakteri asam laktat terbukti mampu mengekstraksi minyak dari emulsi krim santan kelapa. Selama proses fermentasi terjadi pemecahan senyawa-senyawa penyusun emulsi krim santan. Senyawa karbohidrat dalam krim santan merupakan sumber karbon bagi bakteri asam laktat yang digunakan sebagai sumber energi dalam metabolisme sel (Nazaruddin dan Yasa, 2001). Pembentukan asam laktat dari karbohidrat menyebabkan penurunan pH substrat, sehingga dapat menyebabkan protein yang juga sebagai emulsifier pada krim santan mengalami denaturasidan penggumpalan. Penguraian protein juga berlangsung secara enzimatis oleh enzim aminpeptidase yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat yang digunakan sebagai bakteri starter.Aminopeptidase merupakan eksopeptidase yang menguraikan peptide menjadi asam amino (Yahya dkk., 1997). Dengan terurainya karbohodrat dan protein dalam emulsi krim santan, maka molekul minyak akan dibebaskan dan membentuk lapisan tersendiri yang dapat dipisahkan dari bagian lainnya.
5.    Apa yang menyebabkan minyak menjadi tengi?
Jawab:  penyebabnya dapat diakibatkan karena didalam minyak terdapat air maka akan mengakibatkan reaksi hidrolisis yang dapat menyebabkan kerusakan minyak. Reaksi hidrolisis akan menyebabkan ketengikan hidrolisis yang menghasilkan rasa dan bau tengik pada minyak. Asam lemak bebas yang mudah menguap dengan jumlah C4, C6, C8 , dan C10, menghasilkan bau tengik karena dapat berubah menjadi senyawa keton.


DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah,N.A.2005.Pengenalan Virgin Coconut Oil.Jakarta.Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Jekti,D.S.D.,A. Sukarso, dan D.A.C.Rasmi.2005.Penuntun Praktikum Mikrobiologi 2.FKIP.Universitas Mataram
Penuntun praktikum Teknologi Bioproses. Laboratorium Teknologi Bioproses. Universitas Sriwijaya
Syamsuri, Istamar, dkk.2003.Biologi 2000. Erlangga .JakartaVolk dan Wheeler,




Posted by Unknown
Berlangganan Artikel dari Kami via Email
Powered by Blogger.